Kota Pontianak Lingkungan Hidup Ruang Video Ruang Foto Ruang Cerita

Sunday, February 26, 2012

Ruang Hijau Biru : Sepatu

Bang Geun tidak tampak pagi ini, kata Ibu jam 6 tadi sudah pergi meninggalkan rumah. Kutanya lagi pada Ibu kemana Bang Geun pergi, tapi Ibu juga tidak tahu. Lalu kutanya pada Ayah yang sedang duduk santai di teras depan tengah membaca koran, tapi juga tidak tahu. Bahkan Ayah mengira tadi malam Bang Geun tidur denganku.

Padahal pagi ini sudah janji mau nemanin aku pergi cari sepatu. Katanya juga sekalian mau ngajak ke rumah temannya. Tapi kenapa pagi-pagi gini udah hilang entah kemana.

Sedari tadi aku juga sudah sibuk mengiriminya pesan singkat, tapi laporan pesan tertunda.

"Maaf, nomor yang anda tuju tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."

Pantesan enggak terkirim, ponsel Bang Geun nggak aktif, kesalku.

Pagi ini di televisi masih saja hangat-hangatnya kasus korupsi wisma atlet SEA Games kemarin. Dana bangun wisma aja sempat-sempatnya diambil apa jadinya negeri ini dengan segala sesuatu untuk makan diri sendiri, bagaimana dengan rakyatknya.Keluhku dalam batin.

"Adek!! Jangan lupa obatnya ya!!" seru ibuku dari dapur.
"Iyaaaa!! selesain makan dulu Bu!" sahutku.

Sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi dan tentu saja kerupuk yang tidak boleh tertinggal jadi santapan pagi ini. Alhamdulillah, sudah kenyang dan makan obat lagi. Males makan obat, keluhku lagi.

Mau dan harus mau, makan obat, takut nanti seperti malam tadi, semaput lagi kalau nggak makan obat. 5 butir yang terdiri dari 2 kapsul dan 3 tablet, masuk ke mulut dan turun ke kerongkongan menuju perut, diolah dan dialirkan ke darah. Jadi pelajaran biologi lagi deng!!

Waktu udah hampir 8 pagi, masih menunggu kabar Bang Geun, tapi sama sekali belum ada tanda apapun.

"Hari ini ada mau pergi dek?" tanya Ayah.
"Ada Yah, tapi sama Bang Geun," ujarku yang masih saja sibuk menonton televisi.
"Kemana? Soalnya Ayah mau pergi juga jam 9, ada undangan."
"Toko sepatu Yah, Bang Geun mau beliin adek sepatu baru."
"Sepatu lama kan masih bagus, jangan bilang adek maksa minta beliin sama Abang," Ayah mulai berkelit.
"Aduh!! Nggak ada Yah. Abang yang ngajak dan mau beliin adek. Ya adek sih mau-mau aja. hehe..."
"Udah, nggak usah. Yang lama kan masih bagus. Awas kalau Ayah lihat adek beli sepatu baru," mulai marah.
"Jangan salahin adek dong, salahin abang, kan abang yang mau beliin. Kok adek sih jadinya," bantahku.

Aku beranjak dari ruang televisi dan naik ke atas masuk kamar tanpa menghiraukan Ayah yang belum selesai berbicara dengannku. Kubuka laptop dan menekan tombol power, menyalakannya dan membuka sebuah e-book dan membaca lagi.

Mataku mulai terasa mengantuk, biasalah pengaruh obat.Tak lama kuputuskan saja tidur, hari ini juga nggak ada kuliah, istirahat saja, menunggu Bang Geun yang tak ada kabarnya.

***

"Dek, adek!!"
"Bangun!!"
Ada yang mengguncang-guncang badanku. Aku dengar suaranya samar-samar.
"Rham, Rhama, Bangun.."
Masih saja suara itu mengganggu, aku pikir suara Ayah tapi bukan dan aku mengusap-usap mataku, mulai tersadar dari tidur.
"Abang! Bang Geun," ucapku.
"Kemana aja Bang, dari pagi udah ilang. Adek udah nunggu dari pagi sampai tidur," kesalku pada Bang Geun.
"Ehh, jam segini udah tidur. Enggak ada kerjaan lain apa selain tidur."
"Abang bukannya minta maaf kek, apa kek, malah ngomelin adek tidur. Salah siapa coba, kalau pagi tadi abang udah enggak hilang kemana-mana, enggak ada yang tidur," kesalku.
"Ooh, jadi mau nyalahin abang?"

Ya ampun, malah tanya balik. Enggak tahu apa rasanya dibangunin. Orang udah enak-enak tidur dibangunin. kesal banget sama orang satu ini, pikirku dalam hati.

Aku diam saja dan menarik selimut dan menutup mukaku dari pandangan Abangku. Kesal banget sama orang ini, sama sekali enggak mengerti dan maunya dia yang menang.

Bang Geun menarik selimutkan, aku berusaha menahannya, namun beda tenaga, jadi aku yang kalah. Selimut ketarik dan enggak bisa lagi memalingkan wajah, hanya tertunduk saja.

"Ini, ini Abang bawakan sesuatu," menyodorkan sebuah kotak warna hijau.

Aku masih saja menunduk dan diam.

"Lihat dulu dek, lihat dulu," sembari mengangkat kepalaku.
"Iih... apa-apaan sih Bang!" sambil menepis tangannya.
"Ya udah, kalau nggak mau sepatunya."
"Enggak mau, adek nggak mau," kesalku.
"Oke, kalau enggak mau Abang kasih sama orang lain aja," kesalnya.

Abang meninggalkanku, keluar dari kamar. Aku masih saja dengan wajah tertunduk diantara kedua kakiku. Aku mulai merebahkan kembali tubuhku dan kembali ingin tidur, masih mengantuk.

Pandanganku mengarah ke semua ruangan dan terhenti di meja, melihat sebuah kotak berwarna hijau. Apa ini kotak sepatu, apa Abang sengaja meninggalkannya di meja. Pikirku.

Aku bangkit dari ranjang dan berdiri tepat di depan meja dan mencoba melihat isi kotak itu. Aku berpikir beberapa kali, buka, enggak, buka, enggak. Buka ajalah.

"Nah!! Ketahuan ya, dibuka juga akhirnya," teriak Bang Geun di balik pintu.
Dengan kagetnya,"Aah.. Buat Kaget aja! Nggak kok, cuma lihat kotaknya. Nggak ada buka kok,"kilahku.
"Udah, buka aja dek. Buat adek kok!" sembari berjalan ke arah sampingku.
"Enggak kok Bang. cuma ngeliat aja."
Sambil membuka kotak, " Susah, suruh buka aja suah. Tuh sepatu buat adek."

Sebuah sepatu ... berwarna biru tua dan aksen biru muda di depan mataku. Keren sih, tapi kenapa biru, padahal Bang Geun tahu sendiri warna kesukaan adeknya hijau. Malah biru yang dikasih, perasaan warna biru itu kan favoritnya Bang Geun.

"Kok biru?" tanyaku.
"Eh, mana? Hijau kok!" kilah bang geun.
"Matanya kemana Bang! Jelas-jelas itu biru.Hhmmm..."

Bang Geun memperhatikan seksama,"Ups... Salah isi berarti, atau jangan-jangan salah ukuran juga. Tunggu sebentar."

Bang Geun keluar, kemana lagi dia dan masuk lagi dengan membawa kotak warna biru.

"Nah, ini dia, isinya tertukar. Tapi, takutnya ukurannya juga tertukar," sembari mengluarkan sepatu warna hijau dari kotak.
"Ceroboh sekali abang, bisa sampai salah," menghela napas.
"Coba dulu yang hijau ya."

Aku memasukkan kakiku ke sepatu yang modelnya sama dengan warna biru tadi, hanya saja ini warna hijau.

"BESAR!"
"Lihat tuh, masih terasa ruang kosong, tangan aja bisa masuk," sembari mempraktekkan tangan masuk ke dalam sepatu bagian belakang.
"Coba biru," kata bang geun dengan menunjuk sepatu biru di atas meja.

"PAS SEKALI!!"
"Tapi, enggak mau biru..." kataku.
"Hhmmm..." gumam Bang Geun.
"Gimana ya, cuma ada model ini yang ada dan ada warna hijau dan biru. Ukurannya paling kecil tadi pun udah enggak ada lagi yang warna hijau. Mau tukar yang lain aja juga enggak ada yang bisa kayak gini. Udahlah, adek biru dan abang hijau." jelas panjang lebar bang geun.

Ini dia, yang enggak aku suka dari Bang Geun. Pertama ceroboh, kedua selalu mengutamakan seleranya, beli barang buat orang rumah enggak pernah bilang-bilang dulu. Kalau Ayah sampai tahu, habis nih urusannya.

"Ya udah, terserah Abang," Pasrahku.
"Seep deh.."
"Eeiit, ada syaratnya." pungkasku.
Bang Geun mulai was-was.
"Apa lagi, kayak gini aja pakai syarat. Syukur dibeliin." kilahnya.
"Diam dulu Abang! Sederhana kok syaratnya."
"Adek nggak ada baju biru, masak setelan warna hijau, tiba-tiba di kaki warna biru. Enggak cocok kan."
"So??"
"So, tukaran baju dengan adek. Abang juga nggak ada kan baju warna hijau. Syaratnya sama-sama menguntungkan kok."
"Oke-oke. Ntar tukaran. Tapi baju Abang kan besar. Adek kecil."
"HHmm... Iya juga ya," pikirku.
"Enggak apa, nggak masalah Bang. Ntar cari baju abang yang pas buat adek dan pas juga buat abang. Kalau nggak salah sih ada. Kalau nggak mau, terpaksa, sementara ini pakai ala kadarnya dulu. Btw, pasti mahal nih sepatu, abang enggak hemat lagi. Boros lagi. Kalau Ayah tahu, bisa marah!" kataku panjang lebar.
"Ehh, jangan salah. Ayah tadi udah tahu kok. Enggak marah,"
"Kok bisa, padahal tadi pagi Adek udah diomelin kalau jadi beli sepatu," kataku.
"Ada deh, ntar tahu sendiri"
"Uuh... pelit, awas ya!"
"Udah, taruh dulu sepatunya. Kita tukaran baju sekarang."


Bagikan :

Baca juga yang lainnya...



14 komentar:

vie_three February 26, 2012 at 7:14 PM  

hehehe... antara biru dan hijau, aku juga suka warna hijau. tapi kapan hari aku yang beliin sepatu buat abangku, warna merah dink. hehehehe

keren-keren, sepatu bisa jadi cerita. :D

rizki_ris February 26, 2012 at 10:30 PM  

Kunjungan malam sobat
Baca cerita sobat, jadi tertawa- tertawa sendiri
akrab banget ya anatara adek dengan abangnya
beruntung rasanya punya abang yang sayang sama adheknya
lha aku gak punya saudara jadi rumah cuma sendirian gak ada teman untuk main ^^

Lensa February 27, 2012 at 6:22 PM  

Hehehe seru juga ceritanya, baca sambil senyum-senyum,, berarti ceritanya ngena, atau mungkin bacanya terlalu menghayati :) haha
Nice post bro.. saya suka biru dan coklat, sobat pasti hijau :)

Dwi Wahyudi February 28, 2012 at 2:34 AM  

Alhamdulillah sudah mulai aktif ngeblog kembali, tetap semangat Am. Btw, tulisannya menarik. Btw, Bang Geun itu siapa ya? Perasaan beberapa kali kerumah Irham dulu ngga pernah ketemu :-)

Jejak Puisi February 29, 2012 at 3:48 AM  

cerpenny bagus euy... tetap terus menulis y sob.
ditunggu karya selanjut^^

salam blogger

thekupu February 29, 2012 at 12:56 PM  

Rajin menulis cerita ya dek irhamna ini.. Bisa nemani kak hani nanti kalau program monolognya diacc sama bu temi hehe..

Nice story.. Lanjutkan ke novel :D

sisiungu March 1, 2012 at 9:40 AM  

emang dirumah Irham ada bang Guen kah? perasaan ada kakaknya aja, he.. maybe ini tokoh fiktif ya?

nice am, salut ttp semangat..
kk dah lama gak pernah nulis cerpen lagi :)

artiirhamna March 1, 2012 at 9:50 AM  

@vie_three
Haha, merah ya?? masak beliin abang warna merah,,,

@rizki_ris
Ya ni kan cerita fiktif, tapi seru juga kalau punya abang seperti Bang geun.

@sweethy
Sama2, trims udah baca..

@Lensa
Hehe... pasti dunk hijau. siip :D

@Miss Nesthy
Makasih, tgu kelanjutannya.

artiirhamna March 1, 2012 at 9:57 AM  

@Dwi Wahyudi
Ada deh, ntar tahu sendiri

@[./Forbiden-403]
Klu betah, baca yg lainnya ya...

@Jejak Puisi
Siap, ditgu ya...

@thekupu
Iya, lagi senang2nya nulis. Insya Allah nemani deh...

@My Diery
-_- iya, ntar dibuat novel kok

@sisiungu
Bukan Bang Guen tapi Geun.
Ni fiktif kok, baca yg sebelumnya, jadi tahu deh kakak ceritanya bagaimana.

Post a Comment

Silahkan komentar dengan bernilai dan berbobot.
Mohon maaf jika komentar Anda yang berbau SARA maupun SPAM akan terhapus. Untuk itu berkomentarlah sesuai dengan postingan karena Komentar Anda sangat dihargai di laman blog www.artiirhamna.com

KOMENTAR ANDA AKAN DI MODERASI TERLEBIH DAHULU

Terima Kasih.

Arti Irhamna | Disclaimer | Sitemap
Copyright © 2013. Arti Irhamna - All Rights Reserved

Template Edited by Arti Irhamna
Proudly powered by Blogger
Back to TOP